Minggu, 12 Mei 2013

Genetika :: Ragam Keanekaragaman pada Hewan dan Tumbuhan



Kelompok 1

Praktikum Pola Sulur Jari

Sulur - sulur

Anggota :: Yanuar Ary - Bayu Aji - Iffa Faiza

Determinasi Seks

Sumpah kangen masa-masa ini huhuhuhu



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian, maka, tidak ada dua individu  yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu : misalnya dipunyainya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan kelakuan  yang khusus. Hal ini dapat kita lihat pada kucing dan anjing dan kuda, variasi individu pada cacing, burung jalak, bajing atau bayam sukar sekali kita dapatkan meskipun hal itu ada. Meskipun variasi individu  ini terdapat dan hali ini mungkin tidak dapat kita lihat oleh mata kita, hal ini terjadi pada binatang bersel satu sampai dengan ikan paus. Dengan demikian, populasi terdiri dari sejumlah individu yang memiliki sifat penting tetapi berbeda satu sama lain didalam berbagai hal.
Variasi berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. Variasi juga datang dari tukar ganti gen antara spesies yang berbeda: contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria dan hibridisasi pada tanaman.Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini, kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.
Variasi sifat pada tumbuhan atau hewan yang ada di sekitar kita dapat dilihat dengan membandingkan antar individu menurut tingkat divisio, kelas, ordo, family, genus maupun spesies. Tumbuhan ataupun hewan merupakan makhluk hidup yang hubungannya sangat erat dengan kehidupan kita sebagai manusia. Seiring dengan perkembangan jaman, manusia memanfaatkan keduanya dalam berbagai hal, entah dikonsumsi, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, obat-obatan ataupun sekedar untuk hobi dan dirawat serta dipelihara.
Saat ini hewan maupun tumbuhan banyak yang ditumbuh kembangbiakkan dengan berbagai tujuan diantaranya dapat memberi sumbangan untuk kebahagiaan manusia. Hewan sejenis kucing ras persia merupakan kucing yang banyak dipelihara oleh masyarakat. Kucing ini merupakan kucing ras berbulu panjang dan paling mudah diperhatikan warna bulu serta macam pola pada bulu yang memiliki nilai tersendiri dari segi kualitas dan kemurnian genetik. Sedangkan pada tumbuhan dari divisio yang sama yaitu Magnoliopsida, bercabang menjadi beberapa kelas ordo famili genus dan spesies, diantaranya terdapat Bunga Mawar (Rosa sp), Soka (Ixora paludosa), Bougenvill (Bougenvilia spectabilis), Aster (Aster novae-angeliae), dan Dahlia (Dahlia pinata). Masing-masing spesies tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda dengan ciri khas pada tiap individu. Karakter dan variasi sifat pada individu ini merupakan sebuah peristiwa genetik yang patut dipelajari, karena dengan mempelajari hal tersebut pola pewarisan sifat pada tiap individu dapat didata dengan lengkap dan jelas. Proses ini sangat berguna sekali untuk meningkatkan, mempertahankan serta memantapkan usaha pemuliaan.

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pewarisan genetik pada individu per-tingkat satuan tertentu ?
2.      Bagaimana dan apa saja variasi sifat yang berbeda-beda pada setiap individu ?

C.  Tujuan
1.      Mempelajari dan mengetahui pewarisan genetik pada individu per-tingkat satuan tertentu melalui variasi sifat yang berbeda-beda pada setiap individu.
2.      Mempelajari dan mengetahui macam-macam variasi sifat pada tiap individu yang berbeda-beda.


D.  Manfaat
1.      Memberikan gambaran tentang variasi sifat pada tiap individu per-tingkat satuan tertentu.
2.      Memberikan informasi mengenai pola pewarisan sifat dari parental ke keturunannya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Variasi Sifat pada Hewan
Kucing ras yang dikenal sekarang ini umumnya merupakan keturunan Felis silvestris (Kucing liar Eropa) dan bangsa Mesir kuno memelihara kucing sebagai hewan kesayangan. Kucing yang telah mengalami domestikasi dikenal dengan nama ilmiah Felis catus atau Felis domesticus (Ilmason, 1984). Nomenklatur kucing (Bannon. 1992) :
Kingdom         : Animal
Phylum            : Chordata
Class                : Mammalia
Ordo                : Carnivora
Family             : Felidae
Genus              : Felis
Spesies             : Felis domestica
Kucing ras yang dipelihara memiliki panjang tubuh sekitar 76 cm dan kucing betina normal memiliki berat antara 2-3 kg, sedangkan kucing jantan antara 3,5-6,0 kg. Lama hidup kucing berkisar antara 13-17 tahun (bahkan dapat mencapai 21 tahun), sedangkan lama bunting 65 hari (60-69 hari) dan umur dewasa kelamin kira-kira setengah tahun dan siap dikawinkan pada setengah tahun dan siap dikawinkan pada umur 6-15 bulan. Siklus birahi kucing adalah poliestrus dengan siklus estrus (birahi) sekitar 14-24 hari. Jumlah anak yang dilahirkan rata-rata adalah empat, tetapi dapat mencapai 10 (Smith dan Soesanto, 1988).
Sifat genetik pada kucing sangat penting dalam menentukan mutu bibit kucing sesuai kriteria yang diharapkan. Kucing jantan dan betina memiliki 38 kromosom (19 pasang) yang terdiri dari 18 pasang kromosom tbuh (autosom) dan sepasang kromosom seks yaitu XX untuk betina dan XY untuk jantan atau kromosom Y sebagai penentu seks jantan (Noor, 1996). Kombinasi gen-gen yang diwariskan dari tetua ke anaknya akan mempengaruhi morfologi, bentuk telinga, warna bulu, panjang ekor dan lainnya (Sacase, 1986).
Kombinasi gen-gen yang diwariskan dari tetua ke anaknya akan mempengaruhi morfologi, bentuk telinga, warna bulu, panjang ekor dan lainnya (Sacase, 1986). Variasi warna bulu, kulit dan mata timbul akibat mutasi gen yang terjadi setelah kucing didomestikasi (Ensiklopedi Indonesia, 1998) karena adanya pengaruh lingkungan yang sangat ekstrim seperti radiasi, suhu, nutrisi, kelembaban dan air.
·         Corak Warna pada Bulu Kucing
Kucing memiliki warna bulu yang sangat beragam sekali dan kombinasi gen-gen akan menghasilkan berbagai macam warna yang kadang-kadang memiliki nilai ekonomis tinggi.





BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
·      Tiap individu memiliki karakter dan ciri khas masing-masing
·      Induk dengan warna dan pola sama akan menghasilkan anak dengan pola dan warna yang sama pula. Perbedaan warna pada anak dengan parental tidak murni disebabkan oleh derajat dominasi warna yang berbeda antar alel pada satu lokus atau interaksi antara gen yang tidak satu lokus.
·      Tiap individu memiliki kesamaan dan perbedaan dengan individu lain.
·      Secara fisik, setiap individu memiliki kesamaan namun secara genetik terdapat perbedaan karena berada pada spesies atau genus yang berbeda.

B.  Saran
·      Informasi mengenai pewarisan genetis dan variasi lebih diperluas dan dipublikasikan secara besar-besaran agar dapat diketahui khalayak ramai.
·      Penyebaran informasi tentang variasi dapat berfungsi pula ketika proses pengawinan dan persilangan sehingga didapat individu yang bagus kualitasnya.
·      Pewarisan sifat sungguh menarik namun terkadang membinggungkan sehingga lebih dipermudah lagi bahan ajar nya sehingga lebih mudah memahaminya dan tidak muter-muter.
·      Terimakasih dan salam hangat dari kami J



DAFTAR PUSTAKA

Bradshaw, J. 1993. The true of Variety Plant and Animal. SX Composing Ltd., Rayleigh, Essex. Portugal.
Ensiklopedi Indonesia. 1998. Seri Fauna (Mamalia 2). PT Dai Nippon Printing Indonesia. Jakarta
Ensiklopedi Indonesia. 1990. Kucing. PT Cipta Adi Pustaka. Jakarta, Jilid 9.
Hardjosubroto, W. 1998. Pengantar Genetika Hewan dan Tumbuhan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Noor, R.R. 1998. Pewarisan Sifat pada Tumbuhan. Bogor : FMIPA IPB.
Suryo. 2008. Genetika Strata I. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.


Klik di sini untuk mendownload softfile word nya

tararengkyu :)

Ekologi Laporan :: Komposisi Herba di CA Ulo Lanang, Subah, Batang



Kelompok 5 Ekologi Rombel 01 Pend.Bio 2010

Kuliah Lapangan di Ulo Lanang

Anggota Kelompok

Rincian kegiatan yg dilakukan (foto-foto) hahaha
 




KOMPOSISI DAN STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN STRATA HERBA DI KAWASAN CAGAR ALAM ULOLANANG, SUBAH

A.    Latar Belakang
Kurangnya data konservasi di suatu kawasan dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik dari segi ekonomi maupun dari segi keseimbangan ekologi khususnya di sebuah cagar alam. Suatu perencanaan yang baikdalam usaha pelestarian sebuah kawasan perlindungan keanekaragaman hayatisangat diperlukan demi tercapainya keseimbangan ekologis melalui konservasi dan pengelolaan yang sesuai tepat.
Hal ini kami lakukan sebagaimana kami ingin mengetahui faktor lingkungan di kawasan Cagar Alam Ulolanang dapat memberikan dampak pengaruh terhadap macam tumbuhan yang hidup di daerah tersebut. Lingkungan merupakan faktor penting dimana dalam ekologi dapat menjadi penentu tumbuhan apa saja yang dapat hidup dengan kriteria lingkungan seperti itu. Sebab tumbuhan hanya dapat hidup jika syarat medium (lingkungan) tempat hidupnya sesuai dengan syarat hidup tumbuhan.
Cagar Alam Ulolanang Kecubung perlu dilestarikan dari adanyagangguan-gangguan ekologis, maka dalam rangka usaha pelestarian tersebut perlu adanya data dasar tentang komponen penyusun ekosistemnya.Pembuatan proposal ini didasarkan pada kurangnya data ekologis pada Cagar Alam Ulolanang, Subah. Data dasar ini berisi informasi mengenai kondisi hutan meliputi komposisi dan struktur komunitas penyusun hutan.
Tumbuhan herbadipilih sebagai obyek yang diamati dengan pertimbangan bahwa golongan tumbuhan herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang Kecubung cukup melimpah serta tersebut banyak ditemukan tumbuhan lantai hutan sehingga mudah untuk diamati dibandingkan dengan jenis tumbuhan yang lain seperti pohon, maupun semak kemudian juga keakuratan data lebih terjamin dibandingkan kelompok tumbuhan tersebut di atas. Tumbuhan lantai ini juga dimungkinkan memiliki peran yang cukup besar dalam mempengaruhi proses-proses ekologis pada ekosistemnya.
.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana komposisi komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang?
2.      Bagaimana nilai penting spesies penyusun komunitas tumbuhan herba yang hidup di kawasan Cagar Alam Ulolanang?
3.      Bagaimana indeks diversitas spesies penyusun komunitas tumbuhan herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang?

C.    Tujuan
1.      Menentukan komposisi dan struktur komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah.
2.      Menentukan nilai penting spesies penyusun komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah.
3.      Menentukan indeks diversitas spesies penyusun komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah.

D.    Manfaat
1.      Dapat mengetahui jenis tumbuhan strata herba yang bermanfaat di cagar alam Ulolanang, Subah.
2.      Memberikan data yang berguna sebagai referensi komposisi dan struktur komunitas tumbuhan strata herba kawasan cagar alam Ulolanang, Subah.



A.    Landasan Teori
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitathewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosferbumi yang paling penting. Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya.
Cagar Alam Ulolanang Kecubung diresmikan menjadi cagar alamberdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan yang tertuang dalam SuratKeputusan No.SK. 106/Menhut-II/2004 tanggal 14 April 2004. Menurutwilayah administrasi pemerintahan terletak di Desa Gondang, KecamatanSubah, Kabupatan Batang. Cagar Alam Ulolanang Kecubung memiliki luas69,70 hektar dan topografi lereng bergelombang, terletak pada ketinggian ±165 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah latosol dari bahan indukbatu bekuan basis dan intermedier dengan sifat tanah agak asam sampaiasam, warna kuning coklat atau merah dan peka terhadap erosi. Cagar alamUlolanang Kecubung menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson empunyaitipe iklim B, curah hujan rata-rata 277,7 mm/tahun, kelembaban rata-rata84%, dengan suhu 24,40C-290C (Balai KSDA 2010).Tipe ekosistem yang ada di Cagar Alam Ulolanang Kecubungadalah hutan lembab dataran rendah.
Nilai Penting (INP) adalah cara yang digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR).

Index Diversitas memiliki makna tingkat kematangan dan stabilitas komunitas tersebut. Gabungan dari kekayaan jenis & kelimpahan. Bisa diartikan dari banyaknya jumlah yang menyusun dan siapa saja yang menyusunnya.
Transek adalah suatu metode untuk menentukan panjang daerah dengan cara penandaan menggunakan garis sepanjang daerah yang akan diambil sampelnya. Garis tersebut menjadi batasan yang jelas dan merupakan range wilayah yang akan diambil sampelnya.
Keanekaragaman jenis adalah parameter yang sangat berguna untuk membandingkan dua komunitas, terutama untuk mempelajari pengaruh gangguan biotik, untuk mengetahui tingkatan suksesi atau kestabilan suatu komunitas. Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener

B.     Alat dan Bahan
Alat          :Alat tulis                                                                   
Tali rafia    
Pasak         
Meteran                 
Kertas tabel pengamatan
Plastik
Spidol marker atau kertas nama spesies
Kamera
Buku referensi

Bahan : tumbuhan strata herba di kawasan hutan Ulolanang, Subah


A.    Cara Kerja
1.      Melakukan survei dan menyiapkan tindakan penyesuaian lapangan.
Menentukan INP
2.      Membuat plot pada area tersebut, berukuran 1 m2 dengan menggunakan tali rafia. (membentuk tali rafia menjadi persegi 100 x 100 cm, kemudian di setiap titik sudut diikatkan pasak sehingga mempermudah dalam pembuatan plot).
3.      Memilih perlakuan  adanya perbedaan daerah terdedah dan ternaung.
4.      Membagi wilayah ploting menjadi 2 kawasan, daerah terdedah dan ternaung yang mana memiliki tumbuhan herba yang heterogen, masing-masing  pada daerah  terdedah sebanyak  35 plot dan 35 plot pada daerah ternaung.
5.      ngambil sampel tumbuhan herba dengan metode quadrat secara acak.
6.      Menentukan jarak antar plot pada daerah pengeplotan serta mengukur suhu.
Transek line
7.      Mengamati individu yang hadir di plot, kemudian mencatat nama spesies, jumlah individu dan % coverage.
8.      Mencatat data pada tabel pengamatan.
9.      Melakukan ploting dengan mengikuti langkah nomer 7 sampai spesies yang hadir relative sama.
10.      Jika belum diketahui nama spesiesnya, maka mengambil sampel kemudian dimasukkan ke dalam plastikserta memberi penamaan sementara yang konsisten ketika spesies tersebut ditemui lagi di plot lain.

Menentukan ID
1)      Menentukan ID dengan pengolahan data setelah mendapatkan hasil INP tumbuhan herba dari langkah  kerja menentukan INP.
2)      Menentukan ID pada daerah terdedah  dan  ternaung. 
 

  

I.    Pembahasan
Observasi yang kami lakukan kali ini mengangkat pembahasan tentang komposisi dan struktur komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah. Tujuan obsrvasi yang kami lakukan adalah untuk menentukan nilai penting, indeks diversitas serta komposisi dan struktur komunitas tumbuhan penyusun komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah.
Dalam melakukan prosedur kerja yang kami terapkan, pertama kami melakukan observasi tempat terlebih dahulu dengan jalan menyusuri tempat-tempat yang banyak ditumbuhi tumbuhan herba, guna memaksimalkan data spesies serta menentukan persebaran tumbuhan itu sendiri. Kami membagi wilayah tersebut menjadi dua daerah segmentasi, yaitu daerah ternaung dan terdedah. Kami melakukannya berdasarkan atas adnya perbedaan komposisi dalam pengamatan secara langsung setelah melakukan observasi penyusuran daerah. Terdapat juga perbedaan ketinggian, namun ketinggian yang tercantum pada antimeter yang kami gunakan tidak terlalu signifikan, serta pada ketinggian-ketinggian tertentu kami tidak menjumpai adanya perbedaan struktur komposisi tumbuhan herba yang menjadi penyusun komunitas tersebut.
Setelah kami menentukan daerah mana saja yang akan kita segmentasi dan menentukan ploting, kami melakukan prosedur seswuai dengan langkah kerja yang telah kami buat. Kami membuat daerah range dengan transek dan melakukan ploting pada masing-masing daerah segmentasi sebanyak 35 plot. Sehingga total ploting yang kami lakukan adalah 70 kali. Berikut adalah pembahasan mengenai nilai penting dan indek diversitas  setelah pengolahan data.





A.      Nilai Penting
Dari hasil perhitungan, diperoleh bahwa spesies Isachne globosa memiliki nilai penting tertinggi sebesar 42,62 kemudian diikuti oleh spesies Cyperus sp 19,98. Nilai penting tertinggi dijadikan sebagai nama komunitas herba. Sehingga Isachne globosa menjadi nama komunitas herba di Cagar Alam Ulolanang, Subah. Berikut klasifikasi dari Isachne globosa:
Kingdom              : Plantae
Class                     : Commelinids
Ordo                     : Poales
Familia                 : Poaceae
Subfamilia            : Panicoideae
Tribus                   : Isachneae
Genus                   : Isachne
Spesies                 : Isachne globosa
Isachne globosa merupakan rumput-rumputan yang mudah tumbuh di berbagai kondisi lingkungan. Spesies ini menyebar di banyak titik di Cagar Alam Ulolanang, Subah. Tidak seperti Cyperus killingia, Cyperus sp atau rumput jarang yang hanya menggerombol di beberapa titik saja. Isachne globosa ini dapat ditemui baik di daerah terdedah dan ternaung.

Dominansi dan frekuensi relatif dari hasil pengamatan pada spesies Isachne globosa paling tinggi dibanding dengan yang lainnya. Sehingga akumulasi dari kedua parameter tersebut juga menghasilkan nilai penting yang besar. Data ini menunjukkan bahwa Isachne globosa ini mempunyai penguasaan yang besar terhadap daerah vegetasi tersebut dan mempunyai kontrol yang cukup besar terhadap komunitas tumbuhan yang ada di wilayah pengamatan tersebut. Jika keberadaan tumbuhan ini terganggu, maka dapat dimungkinkan vegetasi tersebut akan terganggu pula, karena kemampuan kontrol tumbuhan ini yang besar dan mendominasi area tersebut.
Kelimpahan spesies ini yang ditandai dengan dijumpai pada 34 plot dari total 70 plot dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan spesies jenis ini. Apabila dikaitkan dengan faktor abiotik diatas, maka dapat diartikan bahwa fakto-faktor abiotik tersebut sangat mendukung pertumbuhan dari tumbuhan ini. Selain itu bentuk morfologi tumbuhan ini juga merupakan faktor yang menyebabkan Isachne globosa dapat tumbuh dengan tingkat reproduksi dan beradaptasi dengan baik di Cagar Alam Ulolanang ini.
B.     Indeks Diversitas
Dalam kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan di Cagar Alam Ulolanang pada tanggal 03 November 2012, guna menentukan nilai Indeks diversitas herba di area terdedah yaitu area terkena cahaya matahari langsung dengan area ternaung, yang merupakan area dengan cahaya matahari terbatas atau tidak langsung karena cahaya matahari yang di dapat herba sebagian terhalang oleh vegetasi pohon didapatkan hasil sebagaimana dalam hasil analisis data di atas. Pengamatan herba pada area terdedah dilakukan di sekitar aliran sungai dan sebagian besar di daerah stasiun 3 dimana disini ditemukan banyak herba yang tidak tertutup oleh pohon/semak. Sedangkan untuk pengamatan herba area ternaung dipilih herba yang terdapat di dalam kawasan hutan yang terlindung oleh vegetasi pohon.
Dari data yang didapat setelah kegiatan di lapangan, kemudian dilakukan perhitungan nilai indeks diversitas pada kedua area tersebut mengacu pada nilai penting tiap spesies pada 70 plot dimana 35 plot untuk area terdedah dan 35 plot lagi pada area ternaung. Perhitungan nilai indeks diversitas dengan nilai penting ini menggunakan rumus Shanon wiener yang pada hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan antara indeks diversitas herba area terdedah dan ternaung di Cagar Alam Ulolanang, Subah. Untuk nilai indeks diversitas pada area terdedah adalah 2,78 sedang pada ternaung 2,39. Perbedaan nilai indeks diversitas ini mungkin terjadi karena faktor abiotik yang berbeda di antara kedua area tersebut.
Salah satu faktor abiotik yang terlihat jelas selisihnya pada kedua area tersebut yang mungkin  sangat berpengaruh terhadap nilai indeks diversitas pada kedua area,  terdedah dan ternaung adalah cahaya matahari. Perbedaan nilai intensitas cahaya matahari pada kedua area terdedah dan ternaung inilah yang mungkin menyebabkan terjadinya perbedaan nilai indeks diversitas di kedua area tersebut. Hal ini dikarenakan cahaya matahari merupakan limiting factor bagi  tumbuhan selain air. Meskipun jika dilihat dari harga faktor abiotik lainnya pada kedua area tidak terlalu berbeda jauh, namun berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks diversitas, faktor intensitas cahaya matahari sudah cukup mempengaruhi perbedaan komposisi spesies herba dan kelimpahannya pada masing-masing area yang diamati. Faktor-faktor tersebut memacu tumbuhnya komunitas strata herba di daerah terdedah tumbuh lebih baik dan beragam bila dibandingkan dengan daerah ternaung.

B.     Kesimpulan
1.      Tumbuhan dengan nilai penting tertinggi di Cagar Alam Ulolanang, Subah adalah Isachne globosa dengan nilai penting 42,62.
2.      Nama komposisi dan struktur komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah disebut  sebagai “Komunitas Isachne globosa”.
3.      Nilai indeks diversitas penyusun komunitas tumbuhan strata herba di kawasan Cagar Alam Ulolanang, Subah pada area terdedah adalah 2,78 sedang pada area ternaung adalah 2,39.


 
C.    Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Teknik Analisis Vegetasi. Diunduh di http://www.irwantoshut.net/analisis_vegetasi_Teknik_Analisis_tanpa_petak.html
______. 2012. Teknik Analisis Vegetasi Teknik Titik Kwadran. Diunduh di http://www.irwantoshut.net/analisis_vegetasi_Teknik_titik_kwadran.html
Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Ngabekti, Sri. 2006. Buku Ajar Ekologi. Semarang: Universitas Negeri Semarang
Soerianegara, I  dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor,  Bogor.
Surasana, E. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: FMIPA Institut Teknologi Bandung.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB.





Untuk download softfile klik di sini
Included :: 4 Tahap revisi proposal penelitian - 2 Tahap revisi laporan - Data Pengamatan - Analisisnya

Selamat mendownload :)